ANTARA aKu, AiR, dan ANGin

Berdiri di atas toggak yang tinggi dan tertancap kuat dalam pasir
Serasa ada di dalam kenikmatan kakiku pun berdiri dengan gagah dan tersenyum dengan bangga
Menatap ke bawah, terlihat sepotong bagian dari sejagad samudra yang terluas di negeriku
Para air dan angin bermain di atas permukaannya
Menari dengan anggunnya dan bernyanyi dengan suaranya yang menenangkan namun tak bisa kulihat dan kudengar
Langit dan matahari memberi sinfoni sehingga keindahan itu bisa kudengar dan kulihat
Kakiku tetap gagah dan senyumku makin melebar

Tiba – tiba saja kecemasan menumbuhkan kerakusan membungkus suasana
Tarian dan nyanyian itu seperti ancaman di tiap indraku yang bisa merasakannya
Kumerasa keindahan itu adalah tipuan
Sebuah Fatamorgana yang berada di atas permukaan laut
Dikejar makin hilang

Sumpah serapah kulemparkan pada mereka
Segala yang buruk ku haturkan ke hadapan mereka
Kutak suka lagu yang mereka nyanyikan tarian yang mereka tampilkan
Karena aku kurang bisa menikmatinya
Karena aku ingin tarian yang lebih indah
Karena aku ingin suara yang lebih merdu

Angin dan air itu makin bersemangat
Mereka menyanyi lebih merdu
Menari lebih gemulai
Tapi aku tetap tak suka
Aku pun pergi dan tetap marah pada mereka

Baru aku berjalan sejauh jengkal tangan
Angin dan air menjadi murka
Tarian tak lagi indah suara pun tak lagi merdu
Mereka bersatu dan meninggi
Mengejarku pelan tapi kuat
Aku terus lari sampai kakiku bergetar hebat
Lari…Lari…Lari…
Namun air dan angin itu kian menggila
Aku terus berlari
Tapi aku tak mampu
Mereka menelanku
Dan ketika aku mencoba keluar mereka mengikatku makin kuat
Dan berteriak penuh emosi ramai sekali
“Tak tahukah engkau bahwa kami menyanyikan lagu terindah kami?”
“Tak tahukah engkau bahwa kami menarikan tarian terbaik kami?”
“ Tak taukah engkau betapa kami sangat ingin membuatmu bahagia?”
“Mana pujianmu untuk kami? Kau hanya mencela!”
“Sekarang kau dan teman-temanmu temani kami bermain di sini dan tak usah mengeluh”
“Kau telah mengecewakan kami”
“Dan jangan menangis karena kami mengecewakanmu”
“Harusnya kau lebih menghargai kami”

~ by gesita on June 16, 2008.

2 Responses to “ANTARA aKu, AiR, dan ANGin”

  1. kalau angin itu menerpaku, dan air itu menyembur ke arah wajahku, aku hanya bisa diam…
    Kuletakkan semua tatapan dan segala unsur yang ada di dalam tubuhku untuk bisa menerima apa yang diberikan oleh semuanya.

  2. menurut pendapat saya blog ini sudah cukup baik.. hanya saja masih terlihat sepi dan tdk ada hiasan apapun.. alangkah indahnya kalo diberikan themes dan juga beberapa ornamen pendukung.
    good luck giant..

    Dimas Kresnantyo
    - Kabid Rismed HMPS -

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.